Media Berbagi

Ayah Wafat Tersengat Listrik, 4 Anak Jadi Yatim

Rp 253.000

Donasi Terkumpul

∞ hari

Sisa hari

Deskripsi

“Kami tidak pernah menyangka bahwa pagi itu menjadi pagi terakhir kami melihat bapak. Sejak saat itu kami tak pernah mendengar lagi suara bapak yang pulang membawakan makanan untuk kami”

Pagi itu, suasana di Dusun kami, Dusun Kebontaman, Kab. Semarang sangatlah asri. Embun pagi masih bertengger di atas daun. Matahari pun masih malu malu menampakkan sinarnya. Seperti biasa ayah sudah mulai bersiap-siap menggendong kapak untuk menebang pohon.

Pak Nandhirin, begitu orang biasa memanggil ayahku. Beliau adalah seorang penebang pohon handal di dusun kami. Puluhan tahun ayah menafkahi kami dari hasil batang-batang kayu yang ditebangnya.

Namun.. Siang hari itu semuanya tampak berbeda. Sekelebat awan hitam mulai menggelapkan rumah kami. Biasanya ayah, pulang ke rumah untuk santap siang. Tapi sampai sore hari, ayah belum pulang juga.

Tampak dari kejauhan pria paruh baya berlari ke arah rumah kami. Ku pikir, ‘akhirnya ayah pulang juga’. Namun pikiranku salah, itu adalah teman kerja ayah yang datang membawa berita yang tak ingin kami dengar.

“Bu.. Bu Miaton!! Pak Nadhirin bukk.. Pak Nadhiriiin!!”, teriaknya memanggil ibuku dengan nafas terengah-engah sehabis berlari.

“Bapak kenapa, pak??”, jawab ibu dengan nada yang mulai panik.

“Bapak kecelakaan buk!!”

Bergegas aku dan ibuku, berlari mengikuti teman ayah ke arah hutan sambil menggendong adik bungsuku, Irsyad, yang baru berumur 9 bulan.

Sesampainya disana, sudah terlihat kerumunan orang melingkari sesosok pria yang tak asing bagi kami. Pria yang tadi pagi masih meneguk kopi hitam di rumah, kini terbujur kaku tak bernyawa di tanah lapang.

Tangisan kami pun seketika pecah. Aku hanya bisa memeluk adik-adikku yang lain sambil menahan rasa dukaku yang begitu menusuk ke ulu hati.

Menurut rekan kerja bapak, bapak terjatuh dari pohon dan tersengat aliran listrik. Kejadian itu membawa bapak pergi menemui Sang Khalik tanpa sempat pamit kepada kami terlebih dahulu.

---

Hidup harus terus berlanjut. Kini tersisa ibu, aku, dan ketiga adikku yang berjuang hidup tanpa ayah, sosok tulang punggung keluarga dan pengayom keluarga kami. 

Ibu kehabisan akal bagaimana cara menghidupi kami yang masih kecil-kecil, terutama adik bungsuku yang masih menyusui. Dulu ayah yang memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Beruntung masih ada sedikit sisa uang tabungan untuk kami bertahan hidup.

Entah sampai kapan uang itu cukup. Mungkin esok hari atau lusa kami sudah tak bisa makan dan sekolah lagi.

“Kalau uangnya sudah habis lalu bagaimana kelangsungan ibu dan anak-anak selanjutnya?” Mata bu miaton berkaca-kaca dan menjawab, “Saya tidak tahu”

---

Sahabat, membantu anak yatim memiliki keutamaan yang luar biasa, apalagi mengingat bahwa Rasulullah adalah salah satu contoh anak yatim, bahkan beliau bersabda :

“Aku dan orang yang mengasuh atau memelihara anak yatim akan berada di surga begini,” lalu beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah serta merenggangkannya sedikit.” ( HR Bukhari, Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad dari Sahl bin Sa’d ).

Berikan dukungan dan doa agar mereka bisa terus menjalani hidup dengan cara:

  1. Klik donasi sekarang
  2. Tulis nominal donasi
  3. Pilih metode pembayaran (GoPay, LinkAja, JeniusPay, Virtual Account, atau Transfer Bank)
  4. Segera transfer uangnya jika memilih metode transfer bank

Kabar terbaru

Kabar Terbaru

Belum ada kabar terbaru di program ini

Donatur

NO
Novitasari

5 bulan yang lalu

Rp1.000
NO
Novitasari

5 bulan yang lalu

Rp1.000
NO
Novitasari

5 bulan yang lalu

Rp1.000

Fundraiser

HA
Haidar

Berhasil mengajak 1 orang berdonasi

Rp250,000
DS
Doso Sutrisno

Berhasil mengajak 1 orang berdonasi

Rp1,000